batu loncatan
semua ini dimulai dengan ketidaksengajaan, sehabis ujian, saya dan beberapa teman mengobrol tanpa haluan di selasar, kemudian dengan tanpa sengaja juga saya melihat papan pengumuman, dan seperti yang sebelumnya, saya melihat poster yang menarik perhatian. ringkasnya, ada semacam perhelatan akbar anak kedokteran di Malang, ada lomba, seminar, dan embel-embelnya. pilihan jelas tertuju pada lomba essai, dibanding membunuh waktu dengan makan dan tidur selama liburan, akhirnya YA, ikut lah.
seperti saya katakan di awal, banyak hal di hidup saya ini yang penuh dengan ketidaksengajaan, diawali dengan kehadiran saya ini yang juga kayanya memang tanpa disengaja.
kasarnya begini : gw sakit hati sedalam-dalamnya serasa ditusuk dari belakang banget saat temen baik gw yang amat tau gw dari hal paling remeh temeh bahkan yang ada dalam lubuh hati gw sekalipun nyampe yang paling frontal sekalipun. gw gak tau apa yang dia pikirin, dia tau gw dan bahkan temen kita yang lain udah ngasih tau dia, dia dengen frontalnya ngajak orang lain buat ikut semacam acara ‘kemah’ versi anak kedokteran internasional dibogor selama seminggu. dia tau banget gimana gw kerja sekeras-kerasnya biar bisa ikut iscoms, dan dengan seenaknya dia ngajak orang lain untuk acara yang gw mimpiin dari mulai bangun tidur hingga bangun tidur keesokannya, dahsyat bukan.
setelah keadaan itu, dengan sikap kekanak-kanakan saya, saya memilih untuk lomba karya tulis dari pada essai, dengan alasan saya ingin membuktikan kalau saya jauh lebih layak untuk ikut acara seperti itu dari pada temannya atau atau teman saya itu. ini juga merupakan alasan, agar saya lebih mengenal kemahasiswaan karena saya ingin mengajukan beasiswa, bukan untuk menang.
aturan dari lomba karya tulis adalah TIM, saya harus memilih 2 orang untuk diajak bekerja sama, saya sengaja memilih yang maskulin karena saya tidak mau langkah besar ini terhambat karena debat kusir tentang keegoisan perasaan yang sama, paling tidak para pria lebih dulu mengambil langkah dari kepala, bukan dari hati.
saya memilih si B, pintar, dan cukup tahu bagaimana untuk pintar, bahkan untuk menang. lalu si B menyarankan si J, sahabat sejati bahkan cinta sejatinya *oops, yang masuk top five seangkatan..
diskusi pertama kami, saya telat setengah jam, diskusi ke-3 kami, saya telat dua jam, diskusi terakhir ini saya telat setengah jam. bagian menyenangkannya adalah mereka bukan mas-mas yang mengeluhkan keterlambatan saya, mereka hanya pura-pura marah atau paling tidak menyindir saya yang merencanakan pertemuan ini. bagian yang paling saya syukuri adalah mereka bukan orang yang mudah bosan seperti saya.
bagian minusnya, si J adalah orang yg ikut kegiatan disana-sini, juga sangat-sangat mementingkan kepentingan keluarga, termasuk jalan-jalan dengan keluarga =_=, si B adalah pria yang hobi mudik kekampung halaman. yang lain ? mereka itu hobi ngerjain saya, saat saya bilang ‘kalian yg ngadep dokter ike ya, aku g bisa, punten banget’, well dua hari kemudian, ‘pep besok bisa kan kita ngadep dokter ike, kmaren g sempet’, padahal saya tahu sekali, bukannya tidak sempat, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau diskusi dengan pembimbing, atau mereka juga yang bikin acara dadakan jam 8 pagi padahal saya ada diantah berantah, atau mereka juga yang bikin saya hirup oksigen banyak-banyak menutup mata karena selalu telat menepati deadline, atau mereka yang dihari-hari liburan ini saya masih harus tidur setengah duabelas malam, karena tugas mereka banyak yang kurang. mereka cerdas, sangat, hanya saja ini pertama buat mereka.
mereka juga yang membuka mata saya, inilah potret pria angkatan saya. si J adalah pria liar yang playboy, lajang, bermantan satu, dan diam-diam suka sama teman dekat saya. si B adalah pria yang terlihat pendiam tapi dalamnya sama liarnya seperti si B, berpacar, bermantan banyak. DAN keduanya bikin saya lelah bicara, karena tiap ada kaum hawa yang terlihat bergula baik sedikit maupun banyak, pikirannya pun tertutup oleh gula-gula itu.
mereka jugalah yang membuat banyak hal berubah, mereka mengubah batu keegoisan saya menjadi batu harapan, awalnya saya berharap batu ini dapat memecahkan kaca keangkuhan teman saya dan saya akan tertawa terpingkal-pingkal. sekarang saya berharap ini adalah batu besar yang sanggup menghancurkan tembok, sehingga saya bisa melangkah maju untuk menembus dinding batasan, mengenal banyak hal lain, kemudian menghancurkan batasan-batasan lainnya.
insya Allah hubungan saya dengan teman saya sudah cukup membaik
it’s started out as a feeling, which then grew into a hope, which then turned into a quite thought, which then turned into a quiet word
Regina Spector-The Call