PILIHAN
Beberapa hari yang lalu aku berpikir tentang ‘mimpi’, karena setelah sangat tahu rasanya jatuh sangat dalam, sepertinya belajar menghadapi realitas lebih penting dibandingkan dengan menyusun mimpi, sehingga akhirnya aku mencoba mengikuti pola dan corak. Kemudian, saya ingat lagi bagaimana manisnya menyusun mimpi, saya mulai menyusun banyak hal kembali. Termasuk mencoba belajar bahasa perancis, bukan untuk terlihat romantis, tapi WHO pusat dan international volunteer org. ada di swis, dan mayoritas berbahasa perancis, aku tahu, terlalu jauh, tetapi tidak salah bukan meraba dan mengukur seberapa jauhnya, agar aku tahu diri dan menjadi lebih realistis, karena aku tidak hidup di negeri di atas awan.
Mimpi itu, entahlah, tapi pada kenyataannya mimpi jarang tersentuh realitas, saat aku melangkah untuk apapun itu, ada banyak cabang yang terbentang, entah menyesatkan atau memudahkan, dan itu yang sulit buatku. Aku selalu dibuat bingung oleh pilihan, kadang orang meminta agar punya pilihan, tapi pilihan kadang membuatku diam, tidak bergerak, bahkan menjadi terpuruk.
Pilihan-pilihan itu bervariasi, seperti toko aksesoris, dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Dari mulai memilih sepatu hingga mengikuti konferensi, aku harap ini bukan dependent personality disorder, membutuhkan orang lain untuk memutuskan hal penting dalam hidup, aku harap gangguan ini tidak berlaku untuk usia 19 taun.
Kemarin, kemarin aku bingung apakah baik atau tidak mengikuti suatu konferensi, dengan segala kekurangan, kelebihan, dan keadaan pada diriku, aku bingung, beruntung seseorang membantuku untuk memilih.
Sekarang, bukannya berbahagia melihat kenaikan IP, aku hanya diam kecewa, karena nilai tahun kemarin membuat kumulasinya menjadi rendah. Masih sangat segar rasanya melihat nilai tahun lalu, sederet huruf seragam dari blok 1 hingga blok 10, sayangnya itu bukan poin tertinggi, tidak juga rendah, cenderung dekat ke tinggi . kalau saya ambil remedial, bagian yang mana yang mau saya perbaiki, toh semuanya sama. Saya SANGAT bingung, remed apa engga, remed apa engga, remed apa engga.
Beberapa minggu yang lalu, saya cukup yakin bahwa saya akan mengambil perbaikan nilai, karena berdasarkan kalkulasi saya yang ternyata ngaco, nilai saya terjun payung, tetapi saat dosen wali memberikan amplop nilai, well, blow up my head with multiple choice. Bagian mana yang mau diperbaiki ? nilainya sama, dan tidak akan terlalu berpengaruh. Remed, jangan, remed, jangan, remed, jangan, remed, jangan. (kalau tidak remed, saya bisa beli atlas –lebih penting atlas dari hp baru
-)
Kebingunganku MUNGKIN berlebihan, wajar ? tidak ?, karena aku tahu apa yang aku putuskan hari ini berpengaruh untuk satu menit setelahnya, 24 jam, seminggu, bahkan bertahun-tahun setelahnya. Karena jika saya membuang semua makanan hari ini, esoknya saya akan lapar, dan saya menyesal telah membuang makanan itu.
*baru milih begituan, gimana milih suami ? (hahaha, 19 tahun, dan ga tahu diri)