KENYATAANNYA TIDAK SEMANIS GULA
Alhamdulillah, ujian NBSS (neurobehavior & special sense system) selesai, mudah-mudahan aku bisa menempuh pendidikan tahun ke-tiga, kalau lancar, amin 2 tahun lagi jadi dokter muda
, atau terlalu muda untuk jadi dokter ? walaupun belum beneran jadi dokter, paling tidak usaha saya sampai jungkir balik sedikit-sedikit ada hasilnya.
Penyakit si ayah.
Aku punya ayah yang hebat, tetapi yang mengatur tentang ‘kerumahan’ termasuk urusan anak sakit, ibu saya yang memikul beban. Hanya saja waktu aku duduk di kelas 2 smp dan harus ke dokter, si ayah yang harus menemani. Mungkin ayahku ini tipikal pria yang diceritakan anak perempuan di iklan es krim D**ble d*tch, ‘ga bisa benerin boneka, ga bisa berkebun’ dan ‘ga bisa’ ‘ga bisa’ lainnya, singkat cerita jadi yang berkonsultasi dengan dokternya itu bukan aku tapi ayahku. Dokter tersebut menyarankan ayah untuk berhenti mengonsumsi obat yang selama bertahun-tahun jadi obat tetapnya.
Aku tidak pernah tahu sampai akhirnya aku duduk di ruang tutorial dan menyadari bahwa ayahku yang waktu itu mengantarku ke dokter TIDAK sedang sehat, ayahku mengalami Cushing Disease.
Tepatnya cushing disease- inducing substance, penyakit cushing yang diinduksi substansi. Ayahku mengonsumsi kortikosteroid untuk mengobati penyakit asthmanya, ayahku memang tidak terlihat sakit, justru sangat sehat, tetapi itulah sisi tidak sehatnya. Nafsu makan meningkat, berat badan naik, pipi terlihat kemerahan, gula darah naik, dan efek buruknya penurunan kemampuan imunitas tubuh.
Ayahku mengikuti saran dokter, dan efek langsungnya adalah :
Ayahku sakit selama 3 bulan, dengan segala komplikasi yang ada dalam tubuhnya, itulah efek dari adrenal insufficiency. Kelenjar adrenal menghasilkan hormone adrenalin, tetapi obat asthma itu mengandung zat yang sama seperti yang dihasilkan kelenjar adrenal, dan efeknya, kelenjar adrenal ayahku ‘pundung’ karena posisinya digantikan oleh zat luar yang tiba-tiba datang dan sok pengen bekerja lebih.
Penyakit si mamih.
Masih karena keluhan-keluhanku, aku memutuskan menemui dokter penyakit dalam karena sakit dada yang datang tidak diundang dan berulang. Ibuku juga mengalami sakit dada, hanya saja ibuku memilih menemui dokter jantung,
Dokter penyakit dalam bilangnya : gak apa-apa neng, jantung normal, paru-paru juga, dan akhirnya juga aku tahu, aku mengalami hiperventilasi (sesuatu deh pokoknya).
Dokter jantung bilangnya : ibu kena jantung koroner, sakitnya udah lama, kalo dibilang, ibu ketahuan sakitnya telat.
Ibuku memberi tahu lewat sambungan kabel telepon dengan suara sedikit kecewa, nada kecewanya sama seperti saat aku tahu kalau nilai ujianku tidak seperti yang diharap.
sambil mengelap tetesan air yang keluar dari mata, saya baca perlahan buku patologi itu,
‘sudden cardiac death, biasanya pasien meninggal sebelum sampai di rumah sakit, karena jantung harus bekerja kembali dalam 4 menit’.
(bahkan sekarang tanganku masih bergetar saat harus menulis ini).
Dan itu terjadi pada almarhum paman saya yang meninggal saat bekerja dikantornya.
Dan yang membuat saya tiba-tiba berhenti ditrotoar dan terpaku adalah saat kakakku mengirim pesan,
‘makanan yg gulanya sedikit apa ? ternyata gula nya mama tinggi’
Diabetes mellitus dengan komplikasi jantung koroner,
Even crazier than I ever know.
Mulai dari buah-buahan yang baik hingga yang tidak perlu lagi disentuh, ikan cukuplah jadi daging, tidak perlu lagi membayangkan gulai, sate kambing, atau kulit ayam, lupakan soal gula putih dan garam, biasakan makan yang tawar-tawar, tidak perlu beli biscuit, bolu, es krim, coklat, apalagi blackforest. Ya, lupakan soal manis, asin, dan gurih.
Dan bagian tersulit yaitu saat harus mengubah perut nasi menjadi perut gandum, bukan ingin terlihat keren karena makan oatmeal, tapi itulah satu-satunya makanan pokok yang dapat mengontrol gula darah, menurunkan kolesterol, dan tetap menghasilkan energy.
Saat banyak produk menjanjikan penurunan berat badan, produk asli diet ada di depan saya, ibu saya berkurang belasan kilo berat badannya, gula darah hampir normal, kolesterol turun, dan hasil EKG sudah berangsur membaik.
Cukuplah makan oatmeal, sayuran hijau, cemilan wortel dan lobak, tempe dan tahu kukus, susu rendah lemak, gula jagung yang bahkan tidak bisa dipakai masak.
Kabar kurang baiknya, diabetes mellitus tidak bisa sembuh total, pengidapnya harus menjaga pola makan seumur hidupnya.
Itulah yang namanya sakit, sekarang ayah saya senang sayuran, kakak saya rajin berolahraga, dan ibu saya tetap mengontrol tekanan darah dan makanannya.
Kenapa saya bercerita ini ?
Tidak sedikit orang yang menggunakan obat secara sembarangan, obat bukanlah nasi yang baik dikonsumsi setiap hari. Penyakit jantung adalah pembunuh nomor 1 saat ini, alasannya ? pola hidup yang buruk. Diabetes mellitus, penyakit jantung, stroke, satu sama lain saling berhubungan, penyakit degenerative yang timbul setelah pola hidup saat muda yang kurang baik.
Sekian tahun yang tersisa sebagai status mahasiswa, semoga saya semakin banyak tahu dan semakin baik.