Je Parle Un Peu

Tadi, magrib di tempat les, temen saya bilang.
‘why are you looking so tired ?’
Endingnya saya Cuma bisa senyum,
‘baru keluar jam 4, tugas banyak, rumah jauh, besok masuk jam 7’
Mereka Cuma tersenyum. Saya tahu apa yang harus saya lakukan, hah, ayolah, apakah saya emang butuh psikiatri ? berharap jawabannya adalah tidak. NBSS itu beneran bikin saya muak, maunya jadi spesialis saraf, baru masuk tahap awal aja ribetnya minta ampun.
Maafkan saya kalo banyak mengeluh ya, berhubung yang ada dirumah ini hanya ada para malaikat (amiin), yang mengamini do’a orang-orang kuat pantang menyerah yang berserah diri pada tuhan.
Maafin saya juga nulisnya ngalor ngidul,
(dari dulu bukannya kalau saya nulis selalu ngalor ngidul ya…)
Dalam keadaan setengah vertigo, saya liat atap, pintu, dan banyak hal, semuanya bergoyang. Tiba-tiba terpikir, apa alasan saya tidur tengah malam kaya gini,
Temen yang lagi smsan sama saya bilang,
‘buat ngerjain flipchart, besok presentasi’
Dan saya balas pesannya seperti ini,
‘LI ak cm faktor resiko, 15 menit ngerjain juga jadi’.
Kadang saya membaca 3 buku yang berbeda untuk satu materi dalam dua malam karena siangnya saya kuliah, saya baca juga tugas teman-teman saya, saya berusaha sebaik mungkin. Saya jujur, saya ingin terlihat baik. Saya tidak mau duduk di ruang tutorial dengan hanya untuk menganggukan kepala, berbicara hanya saat mempresentasikan tugas, dan menggelengkan kepala saat ditanya tutor.
Saya ingin lebih baik dari itu, saya kecewa dengan diri saya saat posisi saya berada pada posisi diatas, saya akan berusaha lebih keras lagi, dan sekarang. Ya sekarang, saya memikirkannya lagi. Saya ingin bilang kalau saya lelah. Rasanya seperti bulan-bulan pertama saya berstatus sebagai mahasiswa itu, saat saya tidak tahu harus berbuat apa dengan segala tekanan didalamnya.
Sekarang saya ingin mengatakan ‘bodo amat’, ‘bodo amat’ apa kata dosen saya saat lab, kuliah, tutorial, atau apapun saat saya tidak bisa menjawab pertanyaan mereka, toh saya Cuma orang biasa. saya juga tidak ingin peduli apa pendapat dr. S****** kalau besok saya hanya duduk di ruang tutorial untuk jadi pendengar dan mengisi kolom absensi.
Mungkin saya kurang mendekatkan diri pada Tuhan, mungkin ya, saya juga tidak tahu.
Ya saya ingin mengakhiri tulisan ini tanpa akhir yang jelas karena dua hal, saya terlalu lelah, dan ini sudah terlalu malam.
ada alasan lain mengapa saya menulis di dua tempat yang berbeda. Teman saya bilangnya,
‘yang bisa kita lakukan hanyalah mengumpulkan harga diri yang tersisa, untuk membangun diri kita kembali menjadi orang yang lebih besar’.
Bukannya saya tidak ikhlas berbagi hidup saya bersama beberapa orang teman, tapi bukankah kita semua harus punya ruang privasi.
saya cukup lelah menjadi bahan ejekan mereka, walaupun tahu mereka tidak bermaksud mengejek, ‘mereka’ adalah orang yang mengeringkan air mata saya, menghibur saya, menghargai ide gila saya, menanyakan kemana saya, bersedia berbagi buat saya, dan merayakan hari ulang tahun saya. Saya juga cukup malu melihat banyak hal yang saya usahakan memang tidak sesuai dengan yang diharapkan, dan saya juga tahu bahwa mereka adalah orang yang terus mendorong saya untuk terus maju. Hanya saja sekarang saya ingin ketenangan.
12:12 am
I have to go, don’t worry about me :P I’m fine, absolutely fine

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.