Senin, 18 April 2011
Masih ingat kisah Isabella Swan ? bagaimana saat pertama kali dia pindah ke daerah basah dan dingin itu, dan baju yang selalu dia pakai adalah baju tanpa lengan untuk daerah-daerah panas. Itu adalah suatu bentuk penolakan, setiap orang mengalaminya, begitu juga dengan aku.
Aku menolak ada di tempat ini, aku menyalahkan kegagalanku tidak lulus SPMB atau ujian-ujian lainnya sebagai penyebab utama aku ada di tempat ini. Seharusnya aku berada disana, atau disana, atau dimanapun dulu tempat aku mengorbankan banyak hal agar aku bisa berada disana. Bukan di tempat aku mendaftar karena alasan “dari pada gw gak kuliah”.
Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku berada disini hanya untuk tahun kegagalan itu. Bahwa tahun depannya aku mendaftar lagi, lulus, dan meninggalkan orang-orang yang bahkan dulu aku berharap tidak perlu mengenal mereka. Aku menjadi anak anti-sosial yang hadir di suatu tempat hanya untuk tutorial dan menyimak kuliah. Aku terpaksa untuk belajar atau mengerjakan tugas bersama –gw lebih produktif kalo kerja sendiri gw pikir-, aku hanya akan menyapa orang yang menyapaku, aku selalu menghindari keributan, atau apapun yang berhubungan dengan idealisme solidaritas angkatan, buat apa ? karena suatu hari gw bakal ninggalin tempat ini, tidak baik aku mengenal terlalu banyak orang dan meninggalkan banyak kesan untuk mereka. Akibat dari sikapku inilah yang menjadikan kesan orang kepada saya bisa dibilang buruk, ada orang yang bilang saya sombong, hanya berteman dengan orang pintar, pilih-pilih teman, gak sayang angkatan, egois, cuek yang kelewat batas, dan aku pikir masih banyak lagi yang aku yakin masih lebih banyak yang gak nyampe ke telinga aku.
Aku hanya berteman dengan beberapa orang, setidaknya aku tidak perlu makan siang sendiri, dan ada yang bisa aku Tanya kalau aku kesiangan, dan ada tugas yang tidak aku tahu. Segelintir orang inilah yang sekarang menjadi orang-orang yang aku sayangi.
Tidak hanya masalah berteman yang menjadi penolakanku terhadap keadaan ini, ibuku menyuruhku untuk mencari kostan, jadi aku tidak perlu bermalam-malam di angkot.
Ini jauh lebih buruk lagi, aku tidak suka tempat ini dan sekarang aku harus tinggal disini juga. Buruk. Sangat buruk. Aku mencoba meyakinkan ibuku bahwa daerah itu bukan tempat yang baik untuk ditinggali. Lingkungan padat penduduk, orang-orang tidak baik, sampah, kumuh, tidak ada udara segar. Gila bukan aku disuruh menempati tempat yang sama sekali tidak ingin aku tinggali. Akhirnya aku menemukan tempat yang memang fasilitas, dan udara yang aku dapat cukup nyaman, walaupun dengan harga yang memang tidak murah.
Tambah aja rasa bersalah gw. Aku cukup merasa bersalah karena tidak bisa masuk universitas negeri, sehingga aku menjadi anak yang bisanya Cuma menghabiskan uang orang tuanya, ditambah biaya hidup yang mahal, teman-teman yang hobinya ngajak hura-hura. Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka, mereka yang lebih menganggap dan menghargai orang-orang bermobil dan ber-gadget terbaru, padahal mereka Cuma anak kampung masuk kota yang beradaptasi dengan uang, atau mereka anak-anak yang ingin terlihat gaul dan terkenal dengan memamerkan ini itu. Padahal mereka Cuma anak-anak manja yang memohon-mohon pada orang tuanya untuk gadget terbaru, mobil, hura-hura, dan skin care, bahkan biaya kuliah pun mereka bayar saat menjelang ujian sebagai syarat untuk mendapatkan kartu ujian.
ini bukanlah hal yang aku inginkan, karena aku sama sekali tidak ingin menjadi seperti mereka.
Kembali ke gw.
Aku mendapatkan tempat yang bagus untuk kostan, tapi sayangnya secara strukturan ini bukan tempat bagus sama sekali, depannya bengkel, pekerja yang sering beres-beres adalah bapak-bapak setengah baya yang menurut aku, bahkan sepertinya beliau bukan bapak-bapak, hanya usianya saja yang bapak-bapak, ada juga temennya si ‘bapak-bapak’ ini yang sama sekali gak ramah, dan sumpahnya aku sangat senang-senang-senang sekali saat berminggu-minggu bengkelnya gak buka dan aku gak harus bertemu siapapun dari ‘pengurus’ kostan ini termasuk pemiliknya. Mas-mas matre dengan tampang sok flamboyan padahal –enggak banget- deh sumpahnya.
Kunci kamar hilang harus bayar 200 rebu, gak boleh ini, gak boleh itu. Urus aja sekarep lo. Telat bayar kostan denda perhari 20 rebu, emang yang gw urusin Cuma kostan apa. Emang waktu gw Cuma buat ngurusin apa mau lo !!!
Aku tidak pernah menerima bahwa selama beberapa bulan ini aku anak kostan, aku tidak pernah keluar lagi setelah masuk kostan, aku tidak bergaul dan tidak mencoba mengenal siapapun di kostan itu, kalau suatu hari aku harus keluar dari kostan, aku akan memakai baju rapih, bersepatu, dan membawa tas, karena aku masih mencoba untuk tidak menjadi anak kostan. Karena masih dengan alasan yang sama, aku tidak suka disini, dan aku mencoba menolak.
Setelah, seperti biasa, ngerecokin hidup kakak-kakak dan emak bapak. Akhirnya aku diizinkan kembali ke rumah aku dulu, kakak saya menawarkan saya untuk bawa kendaraan ke kampus. Dan saya bilang saya lebih mending naik angkot, pulang kehujanan, dari pada aku harus menghadapi orang yang sama sekali tidak ingin aku hadapi, karena pada awalnya aku berharap dengan tinggal di kostan aku akan memakai banyak waktu untuk belajar, karena pada kenyataannya tidak seperti itu, karena pada kenyataannya aku masih begini-begini aja.
Saya minta maaf kalau ada orang yang merasa tersakiti dengan tulisan saya ini, saya lelah, lelah menangis dan lelah membuat orang tua lelah dengan saya. Saya tidak mau membuat teman-teman saya lelah untuk membuat saya betah. Saya lelah dengan pandangan orang yang buruk tentang saya.
Ya sekali lagi saya minta maaf kalau ada orang yang merasa tidak nyaman, dan tidak suka dengan tulisan saya ini.