batu loncatan
semua ini dimulai dengan ketidaksengajaan, sehabis ujian, saya dan beberapa teman mengobrol tanpa haluan di selasar, kemudian dengan tanpa sengaja juga saya melihat papan pengumuman, dan seperti yang sebelumnya, saya melihat poster yang menarik perhatian. ringkasnya, ada semacam perhelatan akbar anak kedokteran di Malang, ada lomba, seminar, dan embel-embelnya. pilihan jelas tertuju pada lomba essai, dibanding membunuh waktu dengan makan dan tidur selama liburan, akhirnya YA, ikut lah.
seperti saya katakan di awal, banyak hal di hidup saya ini yang penuh dengan ketidaksengajaan, diawali dengan kehadiran saya ini yang juga kayanya memang tanpa disengaja.
kasarnya begini : gw sakit hati sedalam-dalamnya serasa ditusuk dari belakang banget saat temen baik gw yang amat tau gw dari hal paling remeh temeh bahkan yang ada dalam lubuh hati gw sekalipun nyampe yang paling frontal sekalipun. gw gak tau apa yang dia pikirin, dia tau gw dan bahkan temen kita yang lain udah ngasih tau dia, dia dengen frontalnya ngajak orang lain buat ikut semacam acara ‘kemah’ versi anak kedokteran internasional dibogor selama seminggu. dia tau banget gimana gw kerja sekeras-kerasnya biar bisa ikut iscoms, dan dengan seenaknya dia ngajak orang lain untuk acara yang gw mimpiin dari mulai bangun tidur hingga bangun tidur keesokannya, dahsyat bukan.
setelah keadaan itu, dengan sikap kekanak-kanakan saya, saya memilih untuk lomba karya tulis dari pada essai, dengan alasan saya ingin membuktikan kalau saya jauh lebih layak untuk ikut acara seperti itu dari pada temannya atau atau teman saya itu. ini juga merupakan alasan, agar saya lebih mengenal kemahasiswaan karena saya ingin mengajukan beasiswa, bukan untuk menang.
aturan dari lomba karya tulis adalah TIM, saya harus memilih 2 orang untuk diajak bekerja sama, saya sengaja memilih yang maskulin karena saya tidak mau langkah besar ini terhambat karena debat kusir tentang keegoisan perasaan yang sama, paling tidak para pria lebih dulu mengambil langkah dari kepala, bukan dari hati.
saya memilih si B, pintar, dan cukup tahu bagaimana untuk pintar, bahkan untuk menang. lalu si B menyarankan si J, sahabat sejati bahkan cinta sejatinya *oops, yang masuk top five seangkatan..
diskusi pertama kami, saya telat setengah jam, diskusi ke-3 kami, saya telat dua jam, diskusi terakhir ini saya telat setengah jam. bagian menyenangkannya adalah mereka bukan mas-mas yang mengeluhkan keterlambatan saya, mereka hanya pura-pura marah atau paling tidak menyindir saya yang merencanakan pertemuan ini. bagian yang paling saya syukuri adalah mereka bukan orang yang mudah bosan seperti saya.
bagian minusnya, si J adalah orang yg ikut kegiatan disana-sini, juga sangat-sangat mementingkan kepentingan keluarga, termasuk jalan-jalan dengan keluarga =_=, si B adalah pria yang hobi mudik kekampung halaman. yang lain ? mereka itu hobi ngerjain saya, saat saya bilang ‘kalian yg ngadep dokter ike ya, aku g bisa, punten banget’, well dua hari kemudian, ‘pep besok bisa kan kita ngadep dokter ike, kmaren g sempet’, padahal saya tahu sekali, bukannya tidak sempat, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau diskusi dengan pembimbing, atau mereka juga yang bikin acara dadakan jam 8 pagi padahal saya ada diantah berantah, atau mereka juga yang bikin saya hirup oksigen banyak-banyak menutup mata karena selalu telat menepati deadline, atau mereka yang dihari-hari liburan ini saya masih harus tidur setengah duabelas malam, karena tugas mereka banyak yang kurang. mereka cerdas, sangat, hanya saja ini pertama buat mereka.
mereka juga yang membuka mata saya, inilah potret pria angkatan saya. si J adalah pria liar yang playboy, lajang, bermantan satu, dan diam-diam suka sama teman dekat saya. si B adalah pria yang terlihat pendiam tapi dalamnya sama liarnya seperti si B, berpacar, bermantan banyak. DAN keduanya bikin saya lelah bicara, karena tiap ada kaum hawa yang terlihat bergula baik sedikit maupun banyak, pikirannya pun tertutup oleh gula-gula itu.
mereka jugalah yang membuat banyak hal berubah, mereka mengubah batu keegoisan saya menjadi batu harapan, awalnya saya berharap batu ini dapat memecahkan kaca keangkuhan teman saya dan saya akan tertawa terpingkal-pingkal. sekarang saya berharap ini adalah batu besar yang sanggup menghancurkan tembok, sehingga saya bisa melangkah maju untuk menembus dinding batasan, mengenal banyak hal lain, kemudian menghancurkan batasan-batasan lainnya.
insya Allah hubungan saya dengan teman saya sudah cukup membaik
it’s started out as a feeling, which then grew into a hope, which then turned into a quite thought, which then turned into a quiet word
Regina Spector-The Call
PILIHAN
Beberapa hari yang lalu aku berpikir tentang ‘mimpi’, karena setelah sangat tahu rasanya jatuh sangat dalam, sepertinya belajar menghadapi realitas lebih penting dibandingkan dengan menyusun mimpi, sehingga akhirnya aku mencoba mengikuti pola dan corak. Kemudian, saya ingat lagi bagaimana manisnya menyusun mimpi, saya mulai menyusun banyak hal kembali. Termasuk mencoba belajar bahasa perancis, bukan untuk terlihat romantis, tapi WHO pusat dan international volunteer org. ada di swis, dan mayoritas berbahasa perancis, aku tahu, terlalu jauh, tetapi tidak salah bukan meraba dan mengukur seberapa jauhnya, agar aku tahu diri dan menjadi lebih realistis, karena aku tidak hidup di negeri di atas awan.
Mimpi itu, entahlah, tapi pada kenyataannya mimpi jarang tersentuh realitas, saat aku melangkah untuk apapun itu, ada banyak cabang yang terbentang, entah menyesatkan atau memudahkan, dan itu yang sulit buatku. Aku selalu dibuat bingung oleh pilihan, kadang orang meminta agar punya pilihan, tapi pilihan kadang membuatku diam, tidak bergerak, bahkan menjadi terpuruk.
Pilihan-pilihan itu bervariasi, seperti toko aksesoris, dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Dari mulai memilih sepatu hingga mengikuti konferensi, aku harap ini bukan dependent personality disorder, membutuhkan orang lain untuk memutuskan hal penting dalam hidup, aku harap gangguan ini tidak berlaku untuk usia 19 taun.
Kemarin, kemarin aku bingung apakah baik atau tidak mengikuti suatu konferensi, dengan segala kekurangan, kelebihan, dan keadaan pada diriku, aku bingung, beruntung seseorang membantuku untuk memilih.
Sekarang, bukannya berbahagia melihat kenaikan IP, aku hanya diam kecewa, karena nilai tahun kemarin membuat kumulasinya menjadi rendah. Masih sangat segar rasanya melihat nilai tahun lalu, sederet huruf seragam dari blok 1 hingga blok 10, sayangnya itu bukan poin tertinggi, tidak juga rendah, cenderung dekat ke tinggi . kalau saya ambil remedial, bagian yang mana yang mau saya perbaiki, toh semuanya sama. Saya SANGAT bingung, remed apa engga, remed apa engga, remed apa engga.
Beberapa minggu yang lalu, saya cukup yakin bahwa saya akan mengambil perbaikan nilai, karena berdasarkan kalkulasi saya yang ternyata ngaco, nilai saya terjun payung, tetapi saat dosen wali memberikan amplop nilai, well, blow up my head with multiple choice. Bagian mana yang mau diperbaiki ? nilainya sama, dan tidak akan terlalu berpengaruh. Remed, jangan, remed, jangan, remed, jangan, remed, jangan. (kalau tidak remed, saya bisa beli atlas –lebih penting atlas dari hp baru
-)
Kebingunganku MUNGKIN berlebihan, wajar ? tidak ?, karena aku tahu apa yang aku putuskan hari ini berpengaruh untuk satu menit setelahnya, 24 jam, seminggu, bahkan bertahun-tahun setelahnya. Karena jika saya membuang semua makanan hari ini, esoknya saya akan lapar, dan saya menyesal telah membuang makanan itu.
*baru milih begituan, gimana milih suami ? (hahaha, 19 tahun, dan ga tahu diri)
KENYATAANNYA TIDAK SEMANIS GULA
Alhamdulillah, ujian NBSS (neurobehavior & special sense system) selesai, mudah-mudahan aku bisa menempuh pendidikan tahun ke-tiga, kalau lancar, amin 2 tahun lagi jadi dokter muda
, atau terlalu muda untuk jadi dokter ? walaupun belum beneran jadi dokter, paling tidak usaha saya sampai jungkir balik sedikit-sedikit ada hasilnya.
Penyakit si ayah.
Aku punya ayah yang hebat, tetapi yang mengatur tentang ‘kerumahan’ termasuk urusan anak sakit, ibu saya yang memikul beban. Hanya saja waktu aku duduk di kelas 2 smp dan harus ke dokter, si ayah yang harus menemani. Mungkin ayahku ini tipikal pria yang diceritakan anak perempuan di iklan es krim D**ble d*tch, ‘ga bisa benerin boneka, ga bisa berkebun’ dan ‘ga bisa’ ‘ga bisa’ lainnya, singkat cerita jadi yang berkonsultasi dengan dokternya itu bukan aku tapi ayahku. Dokter tersebut menyarankan ayah untuk berhenti mengonsumsi obat yang selama bertahun-tahun jadi obat tetapnya.
Aku tidak pernah tahu sampai akhirnya aku duduk di ruang tutorial dan menyadari bahwa ayahku yang waktu itu mengantarku ke dokter TIDAK sedang sehat, ayahku mengalami Cushing Disease.
Tepatnya cushing disease- inducing substance, penyakit cushing yang diinduksi substansi. Ayahku mengonsumsi kortikosteroid untuk mengobati penyakit asthmanya, ayahku memang tidak terlihat sakit, justru sangat sehat, tetapi itulah sisi tidak sehatnya. Nafsu makan meningkat, berat badan naik, pipi terlihat kemerahan, gula darah naik, dan efek buruknya penurunan kemampuan imunitas tubuh.
Ayahku mengikuti saran dokter, dan efek langsungnya adalah :
Ayahku sakit selama 3 bulan, dengan segala komplikasi yang ada dalam tubuhnya, itulah efek dari adrenal insufficiency. Kelenjar adrenal menghasilkan hormone adrenalin, tetapi obat asthma itu mengandung zat yang sama seperti yang dihasilkan kelenjar adrenal, dan efeknya, kelenjar adrenal ayahku ‘pundung’ karena posisinya digantikan oleh zat luar yang tiba-tiba datang dan sok pengen bekerja lebih.
Penyakit si mamih.
Masih karena keluhan-keluhanku, aku memutuskan menemui dokter penyakit dalam karena sakit dada yang datang tidak diundang dan berulang. Ibuku juga mengalami sakit dada, hanya saja ibuku memilih menemui dokter jantung,
Dokter penyakit dalam bilangnya : gak apa-apa neng, jantung normal, paru-paru juga, dan akhirnya juga aku tahu, aku mengalami hiperventilasi (sesuatu deh pokoknya).
Dokter jantung bilangnya : ibu kena jantung koroner, sakitnya udah lama, kalo dibilang, ibu ketahuan sakitnya telat.
Ibuku memberi tahu lewat sambungan kabel telepon dengan suara sedikit kecewa, nada kecewanya sama seperti saat aku tahu kalau nilai ujianku tidak seperti yang diharap.
sambil mengelap tetesan air yang keluar dari mata, saya baca perlahan buku patologi itu,
‘sudden cardiac death, biasanya pasien meninggal sebelum sampai di rumah sakit, karena jantung harus bekerja kembali dalam 4 menit’.
(bahkan sekarang tanganku masih bergetar saat harus menulis ini).
Dan itu terjadi pada almarhum paman saya yang meninggal saat bekerja dikantornya.
Dan yang membuat saya tiba-tiba berhenti ditrotoar dan terpaku adalah saat kakakku mengirim pesan,
‘makanan yg gulanya sedikit apa ? ternyata gula nya mama tinggi’
Diabetes mellitus dengan komplikasi jantung koroner,
Even crazier than I ever know.
Mulai dari buah-buahan yang baik hingga yang tidak perlu lagi disentuh, ikan cukuplah jadi daging, tidak perlu lagi membayangkan gulai, sate kambing, atau kulit ayam, lupakan soal gula putih dan garam, biasakan makan yang tawar-tawar, tidak perlu beli biscuit, bolu, es krim, coklat, apalagi blackforest. Ya, lupakan soal manis, asin, dan gurih.
Dan bagian tersulit yaitu saat harus mengubah perut nasi menjadi perut gandum, bukan ingin terlihat keren karena makan oatmeal, tapi itulah satu-satunya makanan pokok yang dapat mengontrol gula darah, menurunkan kolesterol, dan tetap menghasilkan energy.
Saat banyak produk menjanjikan penurunan berat badan, produk asli diet ada di depan saya, ibu saya berkurang belasan kilo berat badannya, gula darah hampir normal, kolesterol turun, dan hasil EKG sudah berangsur membaik.
Cukuplah makan oatmeal, sayuran hijau, cemilan wortel dan lobak, tempe dan tahu kukus, susu rendah lemak, gula jagung yang bahkan tidak bisa dipakai masak.
Kabar kurang baiknya, diabetes mellitus tidak bisa sembuh total, pengidapnya harus menjaga pola makan seumur hidupnya.
Itulah yang namanya sakit, sekarang ayah saya senang sayuran, kakak saya rajin berolahraga, dan ibu saya tetap mengontrol tekanan darah dan makanannya.
Kenapa saya bercerita ini ?
Tidak sedikit orang yang menggunakan obat secara sembarangan, obat bukanlah nasi yang baik dikonsumsi setiap hari. Penyakit jantung adalah pembunuh nomor 1 saat ini, alasannya ? pola hidup yang buruk. Diabetes mellitus, penyakit jantung, stroke, satu sama lain saling berhubungan, penyakit degenerative yang timbul setelah pola hidup saat muda yang kurang baik.
Sekian tahun yang tersisa sebagai status mahasiswa, semoga saya semakin banyak tahu dan semakin baik.
lagi, tentang sepatu
Si E, Q, dan V sepakat buat nemenin beli sepatu, akhirnya setelah sampai di tempat yang dituju.
Saya : bingung, gimana ?
Si V : bentar deh, teh yang ini berapa (sambil menunjuk sepatu yang saya pengen) ?
Si teteh penjual : *sekian (cukup mahal, bikin saya manyun sepanjang perjalanan pulang, kalo nginget harganya)
Si Q : kayanya mending beli di counternya langsung.
Saya : aku sms si itunya dulu aja kali ya, Tanya harga. (teman saya punya sepatu yang sama, dan saya terlanjur jatuh cinta untuk punya hal yang sama
)
Beberapa menit kemudian si temen saya itu membalas pesan saya
Si itu :
‘berapa ya.. lupa pep, kalo g slh 7rts atau 8rtsan, hhe’
Si Q : gila, dasar orang kaya
Si E : BB lama nya ganti TORCH gitu.. kostnnya sejutaduaratus sebulan
Si V : terus gmn ?
Saya : *hadoooh, ternyata gw jatuh cinta sama barang yang salah L
Terkesan terpaksa, bikin saya manyun sepanjang jalan gara-gara dua minggu ini gak bisa nabung karena saya sudah memboyong sepatu itu dan menukarnya dengan lembaran di dompet.
Dan akhirnya, dalam ketidakjelasan perasaan,
‘ Vina !!! ingetin biar aku gak beli barang mahal apapun sampai nilai SOOCA aku bagus dan IP aku membaik’
Je Parle Un Peu
Tadi, magrib di tempat les, temen saya bilang.
‘why are you looking so tired ?’
Endingnya saya Cuma bisa senyum,
‘baru keluar jam 4, tugas banyak, rumah jauh, besok masuk jam 7’
Mereka Cuma tersenyum. Saya tahu apa yang harus saya lakukan, hah, ayolah, apakah saya emang butuh psikiatri ? berharap jawabannya adalah tidak. NBSS itu beneran bikin saya muak, maunya jadi spesialis saraf, baru masuk tahap awal aja ribetnya minta ampun.
Maafkan saya kalo banyak mengeluh ya, berhubung yang ada dirumah ini hanya ada para malaikat (amiin), yang mengamini do’a orang-orang kuat pantang menyerah yang berserah diri pada tuhan.
Maafin saya juga nulisnya ngalor ngidul,
(dari dulu bukannya kalau saya nulis selalu ngalor ngidul ya…)
Dalam keadaan setengah vertigo, saya liat atap, pintu, dan banyak hal, semuanya bergoyang. Tiba-tiba terpikir, apa alasan saya tidur tengah malam kaya gini,
Temen yang lagi smsan sama saya bilang,
‘buat ngerjain flipchart, besok presentasi’
Dan saya balas pesannya seperti ini,
‘LI ak cm faktor resiko, 15 menit ngerjain juga jadi’.
Kadang saya membaca 3 buku yang berbeda untuk satu materi dalam dua malam karena siangnya saya kuliah, saya baca juga tugas teman-teman saya, saya berusaha sebaik mungkin. Saya jujur, saya ingin terlihat baik. Saya tidak mau duduk di ruang tutorial dengan hanya untuk menganggukan kepala, berbicara hanya saat mempresentasikan tugas, dan menggelengkan kepala saat ditanya tutor.
Saya ingin lebih baik dari itu, saya kecewa dengan diri saya saat posisi saya berada pada posisi diatas, saya akan berusaha lebih keras lagi, dan sekarang. Ya sekarang, saya memikirkannya lagi. Saya ingin bilang kalau saya lelah. Rasanya seperti bulan-bulan pertama saya berstatus sebagai mahasiswa itu, saat saya tidak tahu harus berbuat apa dengan segala tekanan didalamnya.
Sekarang saya ingin mengatakan ‘bodo amat’, ‘bodo amat’ apa kata dosen saya saat lab, kuliah, tutorial, atau apapun saat saya tidak bisa menjawab pertanyaan mereka, toh saya Cuma orang biasa. saya juga tidak ingin peduli apa pendapat dr. S****** kalau besok saya hanya duduk di ruang tutorial untuk jadi pendengar dan mengisi kolom absensi.
Mungkin saya kurang mendekatkan diri pada Tuhan, mungkin ya, saya juga tidak tahu.
Ya saya ingin mengakhiri tulisan ini tanpa akhir yang jelas karena dua hal, saya terlalu lelah, dan ini sudah terlalu malam.
ada alasan lain mengapa saya menulis di dua tempat yang berbeda. Teman saya bilangnya,
‘yang bisa kita lakukan hanyalah mengumpulkan harga diri yang tersisa, untuk membangun diri kita kembali menjadi orang yang lebih besar’.
Bukannya saya tidak ikhlas berbagi hidup saya bersama beberapa orang teman, tapi bukankah kita semua harus punya ruang privasi.
saya cukup lelah menjadi bahan ejekan mereka, walaupun tahu mereka tidak bermaksud mengejek, ‘mereka’ adalah orang yang mengeringkan air mata saya, menghibur saya, menghargai ide gila saya, menanyakan kemana saya, bersedia berbagi buat saya, dan merayakan hari ulang tahun saya. Saya juga cukup malu melihat banyak hal yang saya usahakan memang tidak sesuai dengan yang diharapkan, dan saya juga tahu bahwa mereka adalah orang yang terus mendorong saya untuk terus maju. Hanya saja sekarang saya ingin ketenangan.
12:12 am
I have to go, don’t worry about me
I’m fine, absolutely fine
kamar pojok di jalan no. 46
intan arvianty yang membawa saya ke tempat ini, kamar dengan banyak hal didalamnya. saya akan benar-benar kehilangan tempat ini, bukan karena segala fasilitas yang memang tidak disediakan di kostan biasa, hanya ada ditempat ini, tapi apa yang kami alami.
teman-teman saya yang datang untuk bantuin beres-beres saat saya datang, yang mau mencucikan piring saat semua orang sudah lelah dengan kuliah dan tugas, yang masih mau menyapukan lantai saat saya bangun kesiangan dan tidak sempat menyapu di pagi harinya. untuk anggi erditha yang datang dipagi hari setelah malamnya saya mengalami maag, colic, atau apapun yang luar biasa menyiksa, bahkan saat saya harus ke minimarket beli obat dengan mata merah dan muka sembab, tidak bisa berdiri tegak karena menahan sakit yang luar biasa parah. untuk semua tetes air mata reisya gina, kedewasaannya, ketulusannya menjaga kami semua, bahkan diantara segala kesibukannya, dia masih sempat memberikan waktu untuk saya, dan yang lainnya. untuk qurrota ayunin, dengan segala sikap skeptik, dan semua pertengkaran saya dengannya, dia masih dan akan tetap menjadi sahabat saya. nenden vina rachmi, sodara kembar saya, yang dengan segala kesabarannya mengajarkan saya untuk lebih peduli pada orang lain, lebih bersikap ‘baik’ pada orang lain. dengan banyaknya sekali teman yang dia kenal, eva hanifah masih mengutamakan kami, dan bercerita untuk kami, dan terima kasih banyak telah ‘menculik’ saya tanggal 17 april kemarin, hal yang tidak saya bayangkan, tapi pada kenyataannya saat itu saya memang ingin menghilang dari kenyataan. saya suka dengan sikap penerimaan nisawati terhadap saya, bahkan sebelum saya yakin bahwa saya bisa menerimanya sebagai teman, dia ramah, baik sekali. untuk deriska hartias, saya kenalkan bagaimana intan, anggi, quro, echa, saya kenalkan kamu semua ditempat ini, saya kasih tau bahwa mereka tidak seperti yang kamu bayangkan, bahwa mereka adalah orang yang membuat saya kuat bertahan di tempat yang bahkan tidak saya inginkan. yang membuat saya menangis karena tertawa, yang membuat air mata kering cukup dengan bersama mereka.
untuk tetangga-tetangga yang amat sangat baik dan menerima saya dengan segala keantisosialan saya, teh cory, teh mia, teh diah, teh tiwi, teh yeni.
i’ll be miss this place so much.
babbling, crawling, cooing, irritable (week)
sunday :
jojo yang lagi makan di h*kben texted me about her sickness and her -apologize- holiday. dia ikut karena merasa bersalah sama temen-temen saya (bocah-bocah culas) karena acara holiday trip yang destiny nya selalu kelaut waktu libur EMS (endocrine and metabolyc system) batal karena saya dan kembaran udah janji bakal liburan bareng dia.
padahal jauh sebelum liburan EMS, saya udah mohon-mohon sama si mamih biar diizinin nyebrang laut buat ke Tidung. and because of this f*ckn rentroom as a big trouble I couldn’t go with them T_T, endingnya saya cuma bisa mengelus dada dan yakin suatu hari -entah sama siapa-, saya bakal kesana juga.

(jojo pake sweater merah)
monday :
TUTORIAL, dan as usual saya selalu sok tau, padahal belajar juga gak tau belajar apaan. iya deh iya, malemnya saya baca buku, paginya baca dikit, sorenya baca buku juga. hehehe.
Tuesday :
LABORATORIUM ACTIVITY, kalo lagi lab, saya paling sebel sama orang yang seenaknya bilang saya pinter gara-gara saya seneng baca buku. nilai lab yang cuma nambah sekian point yang awalnya 49 jadi 56. saya sebel sama patologi anatomi. anatomi. dan yang paling sebel lagi, saya selalu terlihat paling bego kalo lagi lab. belum lagi temen-temen yang dapet jawaban ‘nyasar’ pas pretest karena nyontek jawaban saya, masih dengan hal yang sama, karena saya sok tau.
karena udah janji sama jojo mau ngebantu ngerjain learning issue nya dia dan kebetulan learning issue kita juga sama tentang language and speech problem, belum ditambah learning issue tambahan saya tentang autism, mental retardation. saya gak les, setelah seharian capek-capek yang capek banget, akhirnya saya terlelap pukul 2.15 am.
Bonne anniversaire
wednesday :
bangun jam 7, belum bikin flipchart, masuk jam 9, belum ngeprint, motokopi, dan embel-embelnya (sarapan, beresin kamar, mandi, dll deh).
ngebut buat tutorial, dan setelah sekian menit di ruang tutorial baru nyadar kalo learning issue saya bukan mental retardation dan autism !!!
oh thanks god, seenggaknya saya belajar banyak T_T, amat-amat-amat banyak.
Thursday :
SKILL LAB, minggu ini bagus banget lah, semuanya tentang anak, mulai dari kasus si anak kena retardasi mental, perkembangan anak, kuliah anak, skill lab pun tentang anak. bikin kangen sama si keponakan yang lagi lucu-lucunya, untungnya dia cewek, jadi saya gak cape-cape banget kalo lagi ngasuh dia. kalo dulu saya nyampe harus main bola, dan dikejar-kejar, atau bahkan ngejar-ngejar, sekarang saya cuma perlu nemenin dia mainin balok, huruf, angka, warna. untuk melatih perkembangan motorik halus, social adaptive, dan language nya (mentang-mentang baru belajar)
di tempat les, hari ini hari terakhir beberapa temen les. aaah sediih, iy lah. hehe gak juga sih, tapi ya ya gitu deh.
friday :
berhubung saya nulisnya di jumat pagi. nanti siang tutorial, ketemu irma rani, nonton acara royal weddingnya prince william and princess-to-be catherine middleton.
‘kate itu orang yang sangat mengerti william, william bercerita banyak tentang keluarga kerajaan, tentang putri diana, tentang banyak hal’
oh ya, entah di hari apa, pacarnya si kembaran yang notabene adalah kakak tingkat bilang,
‘pepi itu kalo di kampus jutek, terus kaya gak mau kenal sama orang’
selain itu, akibat saya temenan sama orang yang lagi bermasalah sama temennya, saya jadi dapet kesan ‘suka ngerebut temen orang’. labil. bgt. sumpahnya.
wish today is perfect for everything.
have a nice weekend
)
XOXO
Senin, 18 April 2011
Masih ingat kisah Isabella Swan ? bagaimana saat pertama kali dia pindah ke daerah basah dan dingin itu, dan baju yang selalu dia pakai adalah baju tanpa lengan untuk daerah-daerah panas. Itu adalah suatu bentuk penolakan, setiap orang mengalaminya, begitu juga dengan aku.
Aku menolak ada di tempat ini, aku menyalahkan kegagalanku tidak lulus SPMB atau ujian-ujian lainnya sebagai penyebab utama aku ada di tempat ini. Seharusnya aku berada disana, atau disana, atau dimanapun dulu tempat aku mengorbankan banyak hal agar aku bisa berada disana. Bukan di tempat aku mendaftar karena alasan “dari pada gw gak kuliah”.
Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku berada disini hanya untuk tahun kegagalan itu. Bahwa tahun depannya aku mendaftar lagi, lulus, dan meninggalkan orang-orang yang bahkan dulu aku berharap tidak perlu mengenal mereka. Aku menjadi anak anti-sosial yang hadir di suatu tempat hanya untuk tutorial dan menyimak kuliah. Aku terpaksa untuk belajar atau mengerjakan tugas bersama –gw lebih produktif kalo kerja sendiri gw pikir-, aku hanya akan menyapa orang yang menyapaku, aku selalu menghindari keributan, atau apapun yang berhubungan dengan idealisme solidaritas angkatan, buat apa ? karena suatu hari gw bakal ninggalin tempat ini, tidak baik aku mengenal terlalu banyak orang dan meninggalkan banyak kesan untuk mereka. Akibat dari sikapku inilah yang menjadikan kesan orang kepada saya bisa dibilang buruk, ada orang yang bilang saya sombong, hanya berteman dengan orang pintar, pilih-pilih teman, gak sayang angkatan, egois, cuek yang kelewat batas, dan aku pikir masih banyak lagi yang aku yakin masih lebih banyak yang gak nyampe ke telinga aku.
Aku hanya berteman dengan beberapa orang, setidaknya aku tidak perlu makan siang sendiri, dan ada yang bisa aku Tanya kalau aku kesiangan, dan ada tugas yang tidak aku tahu. Segelintir orang inilah yang sekarang menjadi orang-orang yang aku sayangi.
Tidak hanya masalah berteman yang menjadi penolakanku terhadap keadaan ini, ibuku menyuruhku untuk mencari kostan, jadi aku tidak perlu bermalam-malam di angkot.
Ini jauh lebih buruk lagi, aku tidak suka tempat ini dan sekarang aku harus tinggal disini juga. Buruk. Sangat buruk. Aku mencoba meyakinkan ibuku bahwa daerah itu bukan tempat yang baik untuk ditinggali. Lingkungan padat penduduk, orang-orang tidak baik, sampah, kumuh, tidak ada udara segar. Gila bukan aku disuruh menempati tempat yang sama sekali tidak ingin aku tinggali. Akhirnya aku menemukan tempat yang memang fasilitas, dan udara yang aku dapat cukup nyaman, walaupun dengan harga yang memang tidak murah.
Tambah aja rasa bersalah gw. Aku cukup merasa bersalah karena tidak bisa masuk universitas negeri, sehingga aku menjadi anak yang bisanya Cuma menghabiskan uang orang tuanya, ditambah biaya hidup yang mahal, teman-teman yang hobinya ngajak hura-hura. Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka, mereka yang lebih menganggap dan menghargai orang-orang bermobil dan ber-gadget terbaru, padahal mereka Cuma anak kampung masuk kota yang beradaptasi dengan uang, atau mereka anak-anak yang ingin terlihat gaul dan terkenal dengan memamerkan ini itu. Padahal mereka Cuma anak-anak manja yang memohon-mohon pada orang tuanya untuk gadget terbaru, mobil, hura-hura, dan skin care, bahkan biaya kuliah pun mereka bayar saat menjelang ujian sebagai syarat untuk mendapatkan kartu ujian.
ini bukanlah hal yang aku inginkan, karena aku sama sekali tidak ingin menjadi seperti mereka.
Kembali ke gw.
Aku mendapatkan tempat yang bagus untuk kostan, tapi sayangnya secara strukturan ini bukan tempat bagus sama sekali, depannya bengkel, pekerja yang sering beres-beres adalah bapak-bapak setengah baya yang menurut aku, bahkan sepertinya beliau bukan bapak-bapak, hanya usianya saja yang bapak-bapak, ada juga temennya si ‘bapak-bapak’ ini yang sama sekali gak ramah, dan sumpahnya aku sangat senang-senang-senang sekali saat berminggu-minggu bengkelnya gak buka dan aku gak harus bertemu siapapun dari ‘pengurus’ kostan ini termasuk pemiliknya. Mas-mas matre dengan tampang sok flamboyan padahal –enggak banget- deh sumpahnya.
Kunci kamar hilang harus bayar 200 rebu, gak boleh ini, gak boleh itu. Urus aja sekarep lo. Telat bayar kostan denda perhari 20 rebu, emang yang gw urusin Cuma kostan apa. Emang waktu gw Cuma buat ngurusin apa mau lo !!!
Aku tidak pernah menerima bahwa selama beberapa bulan ini aku anak kostan, aku tidak pernah keluar lagi setelah masuk kostan, aku tidak bergaul dan tidak mencoba mengenal siapapun di kostan itu, kalau suatu hari aku harus keluar dari kostan, aku akan memakai baju rapih, bersepatu, dan membawa tas, karena aku masih mencoba untuk tidak menjadi anak kostan. Karena masih dengan alasan yang sama, aku tidak suka disini, dan aku mencoba menolak.
Setelah, seperti biasa, ngerecokin hidup kakak-kakak dan emak bapak. Akhirnya aku diizinkan kembali ke rumah aku dulu, kakak saya menawarkan saya untuk bawa kendaraan ke kampus. Dan saya bilang saya lebih mending naik angkot, pulang kehujanan, dari pada aku harus menghadapi orang yang sama sekali tidak ingin aku hadapi, karena pada awalnya aku berharap dengan tinggal di kostan aku akan memakai banyak waktu untuk belajar, karena pada kenyataannya tidak seperti itu, karena pada kenyataannya aku masih begini-begini aja.
Saya minta maaf kalau ada orang yang merasa tersakiti dengan tulisan saya ini, saya lelah, lelah menangis dan lelah membuat orang tua lelah dengan saya. Saya tidak mau membuat teman-teman saya lelah untuk membuat saya betah. Saya lelah dengan pandangan orang yang buruk tentang saya.
Ya sekali lagi saya minta maaf kalau ada orang yang merasa tidak nyaman, dan tidak suka dengan tulisan saya ini.
SINGLE OR ALONE
i’m not single, for this time i just prefer to be alone
NICE TO SEE YOU
I don’t know how to start this page, I think so many times ago I stopped writing here because so many reasons. Maybe you don’t know why you open this page, but it’s up you, you can close or maybe you want to know what kind of story I will write.
This is about a person I met some weeks ago. I don’t know, this feeling comes without invited and go away sometimes, they say I’m young, I don’t have to think about this way seriously, because this coming is not for the last. I will fall in and one day –I like it or not- I have to fall out. This is life.
In my first impression, he is not an interesting one, he is ordinary. But, I don’t know, maybe the way he looks at me, that’s one that make my opinion about him is changing.
Ok, I’m freaking out about this note.
I think he is just a spoilt guy and the reason why he there is his parent, but it isn’t true, he is a great guy I think, he has some plan about his future, he tries every good things, I don’t know about his weakness. And I won’t forget the first time we talk, he said “you’re an independent, right ?”, I don’t know why he said that.
Sometimes our teacher make us to be a partner, yes just he and I, it is a good time, but not only because our teacher, sometimes we decide to be together, maybe you can say this is melancholic, we look each other, I move to sit beside him, another time, we look each other again, and he moves to sit beside me.
I think I’m old enough to understand there are no special thing he did to me, I know too, he is kind of guy that every girl wants, and I really really know, a kind of guy like him already has someone.
I think you have to see his smile, hehe it’s just a joke you know. Like someone said,
“you are young, enjoy it, don’t take it seriously, one day you will leave him, and find someone new. Get your future because I think you have a bright one. Yes, just live your life today”
Tinggalkan sebuah Komentar